Tugas
kelompok
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
ANALISA KURIKULUM PENDIDIKAN DI
INDONESIA
DI SUSUN OLEH:
NI KETUT AYU M A 321 14 039
YENI DANIATI PASUMBU A 321 14 077
YEFINGTON POTTO A 321 14 055
PRODI PENDIDIKAN PANCASILA DAN
KEWARGANEGARAAN
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN
SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2015
ANALISA
KURIKULUM PENDIDIKAN DI INDONESIA
1. KURIKULUM RENCANA PELAJARAN (1947-1968)
Kurikulum yang digunakan di Indonesia
pra kemerdekaan dipengaruhi oleh tatanan sosial politik Indonesia. Pada masa
penjajahan Belanda, setidaknya ada tiga sistem pendidikan dan pengajaran yang
berkembang saat itu.
a. Kurikulum Rencana pelajaran 1947
Kurikulum ini lebih populer disebut
dalam bahasa belanda “leer plan”, artinya rencana pelajaran, ketimbang “curriculum” (bahasa
Inggris). Perubahan kisi-kisi pendidikannya lebih bersifat
politis: dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional.
Karena suasana kehidupan berbangsa saat
itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan
sebagai development conformism lebih menekankan pada
pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar
dengan bangsa lain di muka bumi ini.
Rencana Pelajaran 1947 baru dilaksanakan
sekolah-sekolah pada 1950. Bentuknya memuat dua hal pokok:
1)
Daftar mata pelajaran dan jam
pengajarannya.
2)
Garis-garis besar pengajaran (GBP)
Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran dalam arti kognitif,
namun yang diutamakan pendidikan watak atau perilaku (value , attitude),
meliputi :
1)
Kesadaran bernegara dan bermasyarakat;
2)
Materi pelajaran dihubungkan dengan
kejadian sehari-hari;
3)
Perhatian terhadap kesenian dan
pendidikan jasmani.
Fokus pelajarannya pada
pengembangan Pancawardhana, yaitu :
1) Daya cipta,
2) Rasa,
3) Karsa,
4) Karya,
5) Moral.
Mata pelajaran diklasifikasikan dalam
lima kelompok bidang studi.
1) Moral
2) Kecerdasan
3) Emosional/artistik
4) Keprigelan (keterampilan)
5) Jasmaniah.
HASIL ANALISA:
v CIRI-CIRI
KURIKULUM 1947:
·
Lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia
yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain.
·
Bentuknya memuat dua hal pokok, yaitu daftar mata
pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis pengajarannya.
v KELEBIHAN
KURIKULUM 1947:
·
Kurikulum ini lebih mengutamakan
pendidikan watak atau prilaku diantaranya kesadaran bernegara dan bermasyarakat
serta menghubungkan dengan kejadian sehari-hari sehingga peserta didik bisa
mengaplikasikan secara langsung tentang materi yang di peroleh di sekolah.
·
Lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia
yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain.
v KEKURANGAN
KURIKULUM 1947:
·
Kurikulum ini perubahan kisi-kisi
pendidikannya lebih bersifat politisi dari orientasi pendidikan belanda ke
kepentingan nasional.
·
Kurikulum ini tidak menekankan pada
pendidikan pikiran sehingga peserta didik terfokus pada perubahan karakter.
·
Kurikulum pendidikan Indonesia masih dipengaruhi
system pendidikan kolonial belanda dan jepang.
v IMPLEMENTASI
KURIKULUM 1947:
Pada masa
berlakunya kurikulum 1947 indonesia masih dalam keadaan semangat juang untuk
merebut kemerdekaan, sehingga kurikulum ini lebih menekankan kepada pembentukan
karakter manusia yang berdaulat.
b. kurikulum Rencana
Pelajaran Terurai 1952
Ciri dari
kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi
pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Pada masa itu juga
dibentuk Kelas Masyarakat. yaitu sekolah khusus bagi lulusan SR 6 tahun yang tidak
melanjutkan ke SMP. Kelas masyarakat mengajarkan keterampilan, seperti
pertanian, pertukangan, dan perikanan. Tujuannya agar anak tak mampu sekolah ke
jenjang SMP, bisa langsung bekerja.
Mata
Pelajaran yang ada pada Kurikulum 1954 yakni untuk jenjang Sekolah Rakyat (SD)
menurut Rencana Pelajaran 1947 adalah sebagai berikut
1) Bahasa
Indonesia
2) Bahasa
Daerah
3) Berhitung
4) Ilmu Alam
5) Ilmu Hayat
6) Ilmu Bumi
7) Sejarah
8) Menggambar
9) Menulis
10) Seni Suara
11) Pekerjaan
Tangan
12) Pekerjaan
kepurtian
13) Gerak Badan
14) Kebersihan
dan kesehatan
15) Didikan budi
pekerti
16) Pendidikan
agama
HASIL
ANANLISA:
v CIRI-CIRI
KURIKULUM 1952:
·
setiap pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran
yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
·
pada pengembangan pancawardhana dan mata pelajaran
diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi :moral, kecerdasan,
emosional, keterampilan dan jasmani.
v KELEBIHAN
KURIKULUM 1952:
·
Dibentuknya kelas masyarakat yaitu
sekolah bagi lulusan SR 6 tahun yang tidak bisa melanjutkan ke jenjang SMP.
·
Dalam kelas masyarakat diajarkan
keterampilan seperti pertanian,pertukangan dan perikanan sehingga anak yang
tidak mampu melanjutkan ke jenjang SMP bisa langsung bekerja.
·
Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem
pendidikan nasional. Paling menonjol sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini,
yang setiap pelajaran dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
·
Dalam kurikulum ini Silabus mata pelajaran menunjukkan
secara jelas seorang Guru mengajar satu mata pelajaran.
·
Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu system
pendidikan nasional.
v KEKURANGAN
KURIKULUM 1952:
·
Masih kurangnya tenaga pengajar.
·
Tidak di dukung dengan fasilitas yang memadai.
v IMPLEMENTASI
DARI KURIKULUM 1952:
Kurikulum 1952 lebih mengajarkan keterampilan agar siswa yang tidak mampu melanjutkan
pendidikan kejenjang yang lebih tinggi bisa mendapatkan pekerjaan. Kurikulum
ini lebih mengarah kepada keterampilan untuk bisa mendapatkan pekerjaaan.
c. Kurikulum
Rencana Pendidikan 1964
Pokok-pokok
pikiran kurikulum 1964 adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat
mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD. Kurikulum 1964
juga menitik beratkan pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan
moral, yang kemudian dikenal dengan istilah Pancawardhana. Pada saat itu
pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional
praktis, yang disesuaikan dengan perkembangan anak. Sehingga pembelajaran
dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu pengembangan
moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani.
Cara belajar
dijalankan dengan metode disebut gotong royong terpimpin. Selain itu pemerintah
menerapkan hari sabtu sebagai hari krida. Maksudnya, pada hari Sabtu, siswa
diberi kebebasan berlatih kegitan di bidang kebudayaan, kesenian, olah raga,
dan permainan, sesuai minat siswa. Kurikulum 1964 adalah alat untuk membentuk
manusia pacasialis yang sosialis Indonesia, dengan sifat-sifat seperti pada
ketetapan MPRS No II tanun 1960.
Kurikulum
1964 bersifat separate subject curriculum, yang memisahkan mata
pelajaran berdasarkan lima kelompok bidang studi (Pancawardhana). Mata
Pelajaran yang ada pada Kurikulum 1964 adalah:
1) Pengembangan Moral
a)
Pendidikan
kemasyarakatan
b)
Pendidikan
agama/budi pekerti
2) Perkembangan kecerdasan
a)
Bahasa
Daerah
b)
Bahasa
Indonesia
c)
Berhitung
d)
Pengetahuan
Alamiah
3) Pengembangan emosional atau Artistik
a) Pendidikan kesenian
4) Pengembangan keprigelan
a) Pendidikan keprigelan
5) Pengembangan jasmani
a) Pendidikan jasmani/Kesehatan
HASIL
ANALISA:
v CIRI-CIRI
KURIKULUM 1964:
·
Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri
dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat
mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga
pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana yang meliputi pengembangan
daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral.
·
Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok
bidang studi: moral, kecerdasan, emosional, keterampilan, dan jasmani.
Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional
praktis.
v KELEBIHAN
KURIKULUM 1964:
·
Kurikulum ini lebih menekankan pada pengetahuan
dan kegiatan fungsional praktis.
v KEKURANGAN
KURIKULUM 1964:
·
Kurikulum 1964 tidak bertahan lama.
v IMPLEMENTASI
KURIKULUM 1964:
Pelaksanaan kurikulum ini lebih
menekankan pada tingkat kecerdasan moral,daya cipta, rasa, karsa. Dan juga
meningkatkan kecerdasan di bidang akademik sehingga mampu meningkatkan
kecerdasan di jejnjang pendidikan yang
lebih tinggi.
d. Kurikulum
1968
Kurikulum
1968 memiliki perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi
pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum
1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945
secara murni dan konsekuen. Kurikulum 1968 bertujuan agar pendidikan
ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat
jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti,
dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi
kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.
Kurikulum
1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan
Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 disebut
sebagai kurikulum bulat. Karena kurikulum ini hanya memuat mata pelajaran
pokok-pokok saja. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis tak mengaitkan
dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja
yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.
Kurikulum
1968 bersifat correlated subject curriculum, artinya materi pelajaran
pada tingkat bawah mempunyai korelasi dengan kurikulum sekolah lanjutan. Bidang
studi pada kurikulum ini dikelompokkan pada tiga kelompok besar: pembinaan
pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah mata pelajarannya 9,
yakni:
1)
Pembinaan
Jiwa Pancasila
a)
Pendidikan
agama
b)
Pendidikan
kewarganegaraan
c)
Bahasa
Indonesia
d)
Bahasa
Daerah
e)
Pendidikan
olahraga
2)
Pengembangan
pengetahuan dasar
a)
Berhitung
b)
IPA
c)
Pendidikan
kesenian
d)
Pendidikan
kesejahteraan keluarga
3)
Pembinaan
kecakapan khusus
a) Pendidikan kejuruan
HASIL ANALISA:
v KARATERISTIK
KURIKULUM 1968:
·
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum
1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari
Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan
kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi
pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
·
Mata pelajaran dikelompokkan menjadi 9 pokok.
v CIRI-CIRI
KURIKULUM 1968:
·
Mata pelajaran yang dikorelasikan dengan mata
pelajaran yang lain, walaupun batas demokrasi antar mata pelajaran masih
terlihat jelas.
·
Penjurusan di SMA dilakukan di kelas II, dan
disederhanakan menjadi dua jurusan, yaitu sastra social budaya dan ilmu
pengetahuan alam.
·
Menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran.
Kelompok pembinaan pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah
pelajarannya 9.
v KELEBIHAN
KURIKULUM 1968:
·
Bertujuan pada pembentukan manusia pancasila sejati.
·
Struktur pendidikan dari pancawardhana menjadi
pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.
v KEKURANGAN
KURIKULUM 1968:
·
Muatan materi masing-masing mata pelajaran masih
bersifat teoritis dan belum terikat erat dengan keadaan nyata dalam lingkungan
sekitar.
v IMPLEMENTASI
KURIKULUM 1968:
Pelaksanaan
kurikulum ini menekankan dalam bidang pembentukan manusia pancasila yang sehat
jasmani, mempertinggi kecerdasan jasmani dan sebagainya.
2.
KURIKULUM BERORIENTASI PENCAPAIAN TUJUAN (1975-1994)
Kurikulum
ini menekankan pada isi atau materi pelajaran yang bersumber dari disiplin
ilmu. Penyusunannya relatif mudah, praktis, dan mudah digabungkan dengan model
yang lain. Kurikulum ini bersumber dari pendidikan klasik, perenalisme dan
esensialisme, berorientasi pada masa lalu. fungsi pendidikan adalah
memeliharadan mewariskan ilmu pngetahuan, tehnologi, dan nilai-nilai budaya
masa lalu kepada generasi yang baru.
Menurut
kurikulum ini, belajar adalah berusaha menguasai isi atau materi pelajaran
sebanyak-banyaknya. kurikulum subjek akademik tidak berarti terus tetap hanya
menekankan materi yang disampaikan, dalam sejarah perkembangannya secara
berangsur-angsur memperhatikan juga proses belajar yang dilakukan peserta
didik.
a) Kurikulum
1975
Latar belakang ditetapkanya Kurikulum 1975 sebagai pedoman pelaksanaan
pengajaran di sekolah menurut Menteri Pendidikan Republik Indonesia Sjarif
Thajeb, adalah:
1)
Selama Pelita I, yang dimulai pada tahun 1969, telah
banyak timbul gagasan baru tentang pelaksanaan sistem pendidikan nasional.
2)
Adanya
kebijaksanaan pemerintah di bidang pendidikan nasional yang digariskan dalam
GBHN yang antara lain berbunyi : “Mengejar ketinggalan di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi untuk mempercepat lajunya pembangunan.
3)
Adanya hasil
analisis dan penilaian pendidikan nasional oleh Departemen Pendidikan dan
Kebudayaaan mendorong pemerintah untuk meninjau kebijaksanaan pendidikan
nasional.
4)
Adanya inovasi dalam system
belajar-mengajar yang dianggap lebih efisien dan efektif yang telah memasuki
dunia pendidikan Indonesia.
5)
Keluhan masyarakat tentang mutu lulusan pendidikan
untuk meninjau sistem yang kini sedang berlaku.
6)
Diperlukan peninjauan terhadap Kurikulum 1968 tersebut
agar sesuai dengan tuntutan masyarakat yang sedang membangun.
Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menggunakan prinsip-prinsip
di antaranya sebagai berikut.
1)
Berorientasi pada tujuan. Pemerintah merumuskan
tujuan-tujuan yang harus dikuasai oleh siswa yang lebih dikenal dengan khirarki
tujuan pendidikan.
2)
Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa
setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya
tujuan-tujuan yang lebih integratif.
3)
Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal
daya dan waktu.
4)
Menganut
pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan
Sistem Instruksional (PPSI).
5)
Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan
kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (Drill). Pembelajaran lebih
banyak menggunaan teori Behaviorisme, yakni memandang keberhasilan dalam
belajar ditentukan oleh lingkungan dengan stimulus dari luar, dalam hal ini
sekolah dan guru.
Mata Pelajaran dalam Kurikulum tahun 1975 adalah
1) Pendidikan
agama
2)
Pendidikan
Moral Pancasila
3)
Bahasa
Indonesia
4)
IPS
5)
Matematika
6)
IPA
7)
Olah raga
dan kesehatan
8)
Kesenian
9) Keterampilan
khusus
HASIL ANALISA:
v KELEBIHAN
KURIKULUM 1975:
·
Menekankan pada pendidikan yang lebih efektif dan
efisien dalam hal daya dan waktu.
·
Menganut sistem yang senantiasa mengarah kepada
tercapainya tujuan yang spesifik,dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk
tingkah laku siswa
v KEKURANGAN
KURIKULUM 1975:
·
Guru dibuat sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai
dari setiap kegiatan pembelajaran.
b). Kurikulum 1984
Sidang umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam GBHN 1983 menyiratkan
keputusan politik yang menghendaki perubahan kurikulum dari kurikulum 1975 ke
kurikulum 1984, karena sudah dianggap tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan
masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi . Secara umum dasar
perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 di antaranya adalah sebagai berikut.
- Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang
belum tertampung ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.
- Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum
berbagai bidang studi dengan kemampuan anak didik.
- Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan
pelaksanaannya di sekolah.
- Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus
diajarkan hampir di setiap jenjang.
- Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa
(PSPB) sebagai bidang pendidikan yang berdiri sendiri mulai dari tingkat
kanak-kanak sampai sekolah menengah tingkat atas termasuk Pendidikan Luar
Sekolah.
- Pengadaan program studi baru (seperti di SMA)
untuk memenuhi kebutuhan perkembangan lapangan kerja.
Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
- Berorientasi kepada tujuan instruksional.
Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa
dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar
fungsional dan efektif.
- Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik
melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran
yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik,
mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh
pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif,
maupun psikomotor.
- Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan
pendekatan spiral. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam
pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran.
- Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum
diberikan latihan. Untuk menunjang pengertian alat peraga sebagai media
digunakan untuk membantu siswa memahami konsep yang dipelajarinya.
- Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan
atau kematangan siswa. Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat
kematangan mental siswa dan penyajian pada jenjang sekolah dasar harus
melalui pendekatan konkret, semikonkret, semiabstrak, dan abstrak dengan
menggunakan pendekatan induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan.
- Menggunakan pendekatan keterampilan proses.
Keterampilan proses adalah pendekatan belajar-mengajar yang memberi
tekanan kepada proses pembentukkan keterampilan memperoleh pengetahuan dan
mengkomunikasikan perolehannya.
Kebijakan dalam penyusunan Kurikulum 1984 adalah sebagai
berikut.
- Adanya perubahan dalam perangkat mata pelajaran
inti. Kurikulum 1984 memiliki enam belas mata pelajaran inti. Mata
pelajaran yang termasuk kelompok inti tersebut adalah: Agama, Pendidikan
Moral Pancasila, pendidikan sejarah perjuangan bangsa , Bahasa dan sastra
Indonesia, Geografi Indonesia, Geografi Dunia, Ekonomi, Kimia, Fisika,
biolagi, Matematika, Bahas Inggris, Kesenian, Keterampilan, Pendidikan
Jasmani dan olah raga, Sejarah dunia dan Nasional.
- Penambahan mata pelajaran pilihan yang sesuai
dengan jurusan masing-masing.
- Perubahan program jurusan. Kalau semula pada
Kurikulum 1975 terdapat 3 jurusan di SMA, yaitu IPA, IPS, Bahasa, maka
dalam Kurikulum 1984 jurusan dinyatakan dalam program A dan B. Program A
terdiri dari :
- A1, penekanan pada mata pelajaran Fisika
- A2, penekanan pada mata pelajaran Biologi
- A3, penekanan pada mata pelajaran Ekonomi
- A4, penekanan pada mata pelajaran Bahasa dan
Budaya.
HASIL ANALISA:
v KELEBIHAN
KURIKULUM 1984:
·
Pendekatan pembelajaran yang memberikan kesempatan
kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intlektual dan
emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal,
baik dalam ranah kognitif, afektip, maupun psikomotor.
v KEKURANGAN
KURIKULUM 1984:
·
Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar.
·
Banyak sekolah kurang mampu menafsirkan, yang terlihat
adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana sini ada
tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah.
c). kurikulum 1994
Pada
kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1984, proses pembelajaran menekankan pada
pola pengajaran yang berorientasi pada teori belajar mengajar dengan kurang
memperhatikan muatan (isi) pelajaran. Akibatnya, pada saat itu dibentuklah Tim
Basic Science yang salah satu tugasnya ikut mengembangkan kurikulum di sekolah.
Tim ini memandang bahwa materi (isi) pelajaran harus diberikan cukup banyak
kepada siswa, sehingga siswa selesai mengikuti pelajaran pada periode tertentu
akan mendapatkan materi pelajaran yang cukup banyak.
Terdapat
ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai
berikut.
1)
Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem
caturwulan. Diharapkan agar siswa memperoleh materi yang cukup banyak.
2)
Pembelajaran
di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi
kepada materi pelajaran/isi).
3)
Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang
memberlakukan satu sistem kurikulum inti untuk semua siswa di seluruh
Indonesia.
4)
Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan
menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara
mental, fisik, dan sosial.
5)
Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya
disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir
siswa, sehingga menekankan pada pemahaman konsep dan keterampilan menyelesaikan
soal dan pemecahan masalah siswa.
6)
Pengajaran
dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang
sulit, dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek.
7)
Pengulangan-pengulangan materi yang di anggap sulit
perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa.
HASIL
ANALISA:
v KELEBIHAN
KURIKULUM 1994:
·
Penggunaan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam
belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial.
·
Pengajaran dari hal yang konkret ke hal yang abstrak,
dari hal yang mudah ke hal yang sulit, dari hal yang sederhana ke hal yang
kompleks.
v KEKURANGAN
KURIKULUM 1994:
·
Aspek yang di kedepankan dalam kurikulum 1994 terlalu
padat.
·
Konsep pengajaran satu arah, dari guru ke murid.
·
Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya
mata pelajaran dan banyaknya materi/ substansi setiap mata pelajaran.
·
Materi pelajaran yang dianggap terlalu sukar karena
kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna
karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.
·
Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit
perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman.
v PERSAMAAN KURIKULUM 1968, 1975,
1984, dan 1994
·
Dirancangberdasarkan landasan yang
sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945.
·
Tujuan dan isi kurikulum diarahkan untuk mencapai
tujuan pendidikan pada setiap tahunnya.
·
Peningkatan mutu pendidikan mencakup pengembangan
dimensi manusia seutuhnya yakni aspek-aspek moral, ahlak, budi pekerti,
perilaku, pengetahuan, kesehatan, ketrampilan, dan seni yang bermuara pada
peningkatan dan pengembangan kecakapan hidup yang diwujudkan melalui pencapaian
kompetensi peserta didik.
v PERBEDAAN
KURIKULUM 1968, 1975, 1984, DAN 1994
a.
Kurikulum 1968:“Membentuk manusia Pancasilais sejati
berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki oleh pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945 dan isi Undang-Undang Dasar 1945”.
b.
Kurikulum 1975:“Membentuk
manusia pembangunan yang berpancasila dan membentuk manusia Indonesia yang
sehat jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat
mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi
dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan
disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama
manusia sesuai dengan ketentuan yang bermaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945”.
c.
Kurikulum 1984:“Meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan, mempertinggi budi pekerti,
memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah
airagar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun
dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”.
d.
Kurikulum 1994:“Mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia
yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti
luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,
kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan
dan kebangsaan”.
3.KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
(KBK) (2004)
v Pengertian Kurikulum 2004 (KBK)
Dalam dokumen kurikulum 2004 dirumuskan bahwa
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan perangkat rencana dan pengaturan
tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai oleh siswa, penilaian,
kegiatan belajar mengajar,dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam
pengembangan kurikulum sekolah (Depdiknas 2002). KBK menuntut keragaman
penggunaan berbagai sumber informasi, yang tidak hanya mengandalkan dari mulut
guru, akan tetapi dari sumber lainnya termasuk dari media elektronik semacam
komputer dan internet, video, dan lain sebagainya. Dengan demikian kemajuan
bidang teknologi khususnya teknologi informasi, memungkinkan siswa bisa belajar
dari berbagai sumber belajar sesuai dengan minat, kemampuan, dan kecepatan
masing-masing.
Kurikulum ini menitik beratkan pada pengembangan
kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi
tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa
penguasaan terhadap serangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk
mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta
didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan dan
keberhasilan dengan penuh tanggungjawab.
v Latar
belakang Perubahan Kurikulum
KBK tidak ditetapkan dalam UU atau Peraturan
Pemerintah. Alasan diubahnya kurikulum 1994 menjadi KBK karena mutu pendidikan
di Indonesia yang kurang baik dan banyak siswa yang tidak menerapkan ilmu
pengetahuan yang mereka dapatkan, selain itu mereka dituntut untuk menghapal
materi tanpa memahaminya sehingga apa yang telah di ujikan maka materi itu akan
dengan mudah lupa.Oleh karena itu dengan dirubahnya kurikulum 1994 menjadi KBK
diharapkan dapat menekankan kurikulum pada kompetensi yang harus dimiliki dan
dikuasai siswa dalam menyelesaikan pembelajaran. Menurut Paul (2007:43)
kompetensi merupakan “kemampuan yang dapat berupa keterampilan, nilai
hidup siswa yang mempengaruhi cara mereka berpikir dan bertindak”.
Dalam kurikulum KBK ini sekolah diberi keleluasaan dalam menyusun dan
mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasi potensi
sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik serta kebutuhan masyarakat
sekitar sekolah.
v Ciri-ciri Kurikulum KBK
·
Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik
secara individual maupaun klasikal. Artinya isi KBK pada intinya adalah
menekankan pada pencapaian sejumlah kompetensi yang harus dicapai oleh siswa.
Kompetensi inilah yang selanjutnya dinamakan standar minimal atau kemampuan
dasar.
·
Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman.
Artinya, keberhasilan pencapaian kompetensi dasar diukur oleh indikator hasil
belajar. Indikator inilah yang dijadikan acuan apakah kompetensi yang
diharapkan sudah tercapai atau belum.
·
Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan
dan metode yang bervariasi. Dalam KBK proses menerima informasi dari guru harus
ditinggalkan. Belajar adalah proses mencari dan menemukan. Jadi menuntut
keaktifan siswa, oleh sebab itu proses pembelajaran harus bervariasi.
·
Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar
dalam upaya penguasaan suatu kompetensi. Artinya, keberhasilan pembelajaran KBK
tidak hanya diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai isi atau materi
pelajaran, akan tetapi bagaimana cara mereka menguasai pelajaran tersebut. Jadi
hasil dan proses adalah dua sisi yang sama penting.
HASIL ANALISA:
v KELEBIHAN
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI 2004:
·
Mengembangkan kompetensi-kompetensi siswa pada setiap
aspek mata pelajaran dan bukan pada penekanan penguasaan konten mata pelajaran
itu sendiri
·
Mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa
(student oriented). Siswa dapat bergerak aktif secara fisik ketika belajar
dengan memanfaatkan indra seoptimal mungkin dan membuat seluruh tubuh serta
pikiran terlibat dalam proses belajar. Dengan demikian, siswa dapat belajar
dengan bergerak dan berbuat, belajar dengan berbicara dan mendengar, belajar
dengan mengamati dan menggambarkan, serta belajar dengan memecahkan masalah dan
berpikir. Bentuk pelaporan hasil belajar yang memaparkan setiap aspek dari
suatu mata pelajaran memudahkan evaluasi dan perbaikan terhadap kekurangan
peserta didik.
·
Penilaian yang menekankan pada proses memungkinkan
siswa untuk mengeksplorasi kemampuannya secara optimal, dibandingkan dengan
penilaian yang terfokus pada konten.
v KEKURANGAN
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI 2004:
·
Paradigma guru dalam pembelajaran KBK masih seperti
kurikulum-kurikulum sebelumnya yang lebih pada teacher oriented
·
Sarana dan pra sarana pendukung pembelajaran yang
belum merata di setiap sekolah, sehingga KBK tidak bisa diimplementasikan
secara komprehensif.
·
Kebijakan pemerintah yang setengah hati, karena KBK
dilaksanakan dengan uji coba di beberapa sekolah mulai tahun pelajaran
2001/2002 tetapi tidak ada payung hukum tentang pelaksanaan tersebut.
·
Konsep KBK sering mengalami perubahan termasuk pada
urutan standar kompetensi dan kompetensi dasar sehingga menyulitkan guru untuk
merancang pembelajaran secara berkelanjutan
4.
KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
(KTSP) 2006
Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikukulum terbaru di indonesia yang
disarankan untuk dijadikan rujukan oleh para pengembang kurikulum di tingkat
satuan pendidikan. KTSP merupakan kurikulum yang disempurnakan dari kurikulum
2004 (KBK). Kurikulum ini disusun oleh masing-masing satuan pendidikan atau
sekolah. Prinsipnya hampir sama dengan KBK. KTSP diberlakukan mulai tahun
2006/2007. Dalam kurikulum ini pemerinyah hanya sebagai pengembang kompetensi
standar isi dan kelulusan. Selanjutnya sekolah bebas menyusun kurikulum sesuai
dengan keadaan sekolah dan siswa didik.
KTSP disusun
dalam rangka memenuhi amanat yang tertuang dalam UU RI no. 20 tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional. Dalam KTSP pendekatan belajar berbasis
materi, jam belajar dan struktur program.
ü Konsep Dasar
KTSP
Dalam
Standar Nasional Pendidikan (SNP Pasal 1, ayat 15) dikemukakan bahwa KTSP
adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing
satuan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan
memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang
dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
Beberapa hal yang perlu dipahami dalam kaitannya dengan KTSP adalah sebagai
berikut :
- KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan
pendidikan, potensi dan karakteristik daerah, serta sosial budaya
masyarakat setempat dan peserta didik.
- Sekolah dan komite sekolah mengembangkan KTSP dan
silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar lulusan, di bawah
supervisi dinas pendidikan kabupaten/kota, dan departemen agama yang
bertanggung jawab di bidang pendidikan.
- KTSP untuk setiap program studi di perguruan
tinggi dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi
dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.
ü Tujuan KTSP
Secara umum
tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan
pendidikan melalui pembrian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan
mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif
dalam pengembangan kurikulum.
Secara khusus tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk :
- Meningkatkan
mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam
mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan seuber daya yang
tersedia.
- Meningkatkan
kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum
melalui pengambilan keputusan bersama.
Meningkatkan kompetisi yang sehat
antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.
ü Landasan Pengembangan KTSP
KTSP dilandasi oleh undang-undang dan peraturan pemerintah sebagai berikut :
- Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas
dikemukkan bahwa Standar Nasional Pendidikan terdiri atas standar isi,
proses, kompetisi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana,
pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan
secara berencana dan berkala.
- Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan dikemukakan bahwa kurikulum adalah seperangkat
rencana dan peraturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara
yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu.
- Permendikas No. 22 tahun 2006 tentang standar
isi, mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk
mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan
tertentu.
- Permendiknas No. 23 tahun 2006 tentang Standar
Kompetensi Lulusan untuk satuan dasar pendidikan dasar dan menengah
digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta
didik.
- Permendiknas No. 24 tahun 2006 tentang
Pelaksanaan permendiknas no. 22 dan 23, dikemukakan bahwa satuan
pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan kurikulum
tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai kebutuhan satuan
pendidikan yang bersangkutan.
ü Karakteristik
KTSP
Karakteristik KTSP bisa diketahui antara lain dari
bagaimana sekolah dan satuan pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja, proses
pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, profesionalisme tenaga kependidikan
serta sistem penilaian.
·
Pemberian otonomi luas kepada sekolah dan satuan
pendidikan
Sekolah dan satuan pendidikan juga diberi kewenangan dan kekuasaan yang luas
untuk mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
peserta didik serta tuntutan masyarakat.
·
Partisipasi masyarakat dan orang tua yang tinggi :Orang
tua peserta didik dan masyarakat tidak hanya mendukung sekolah melalui bantuan
keuangan, tetapi melalui komite sekolah dan dewan pendidikan merumuskan serta
mengembangkan program-program yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
·
Kepemimpinan yang demokratis dan profesional: Kepala
sekolah dan guru-guru yang direkrut sebagai tenaga pelaksana kurikulum
merupakan orang-orang yang memiliki kemampuan dan integritas profesional.
·
Tim-kerja yang kompak dan transparan:Dalam pelaksanaan
pembelajaran, pihak-pihak terkait bekerjasama secara profesional untuk mencapai
tujuan-tujan yang disepakati bersama.
HASIL ANALISA:
v KELEBIHAN KURIKULUM KTSP:
·
Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam
penyelenggaraan pendidikan.
·
Mendorong para guru, kepala sekolah dan pihak
manajemen sekolah semakin meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan
program-program pendidikan.
·
KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk
menitik beratkan dan mengembangkan mata pelajaran tertentu bagi kebutuhan
siswa.
·
KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat
padat
·
KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada
sekolah-sekolah plus untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan
kebutuhan.
v KEKURANGAN
KURIKULUM KTSP:
·
Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung
sebagai kelengkapan dari pelaksanaan KTSP.
·
Masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara
komprehensif baik konsepnya, penyusunannya maupun prakteknya di lapangan.
·
Penerapan KTSP yang merekomendasikan pengurangan jam
pelajaran akan berdampak berkurang pendapatan guru.
v PELAKSANAAN
KURIKULUM KTSP:
Pelaksanaan
kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk
menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Pelaksanaan kurikulum
memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan,
pengayaan atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembngan dan kondisi
peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi
peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan dan moral. Kurikulum
dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber
belajar dan teknologi yang memadai dan memanfaatkan lingkungan sekita dengan
sumber belajar.
5.KURIKULUM 2013
Sedangkan
kurikulum terbaru saat ini yang digunakan di Indonesia yaitu Kurikulum Tahun
2013, di mana kurikulum ini lebih mirip dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Model kurikulum berbasis kompetensi ini ditandai oleh pengembangan kompetensi
berupa sikap, pengetahuan, keterampilan berpikir, dan keterampilan psikomotorik
yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran. Walaupun hampir mirip dengan model
Kurikulum Berbasis Kompetensi, akan tetapi masih ada juga
perbedaan-perbedaannya.
Kurikulum 2013 bertujuan untuk mengarahkan peserta didik menjadi:
·
Manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab
tantangan zaman yang selalu berubah;
·
Manusia terdidik yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri;
·
Warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Pengembangan
dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi merupakan salah satu strategi
pembangunan pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Kurikulum ini menekankan tentang
pemahaman tentang apa yang dialami peserta didik akan menjadi hasil belajar
pada dirinya dan menjadi hasil kurikulum. Oleh karena itu proses pembelajaran
harus memberikan kesempatan yang luas kepada peserta didik untuk mengembangkan
potensi dirinya menjadi hasil belajar yang sama atau lebih tinggi dari yang
dinyatakan dalam Standar Kompetensi Lulusan.
HASIL ANALISA:
v
KELEBIHAN KURIKULUM 2013:
·
Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan yang bersifat
karena berangkat, berfokus, dan bermuara pada hakekat peserta didik untuk
mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan potensi masing-masing. Dalam
hal ini pesrta didik merupakan subjek belajar dan proses belajar berlansung
secara alamiah dalam bentuk bekerja dan mengalami berdasarkan kompetensi
tertentu, bukan transfer pengetahuan.
·
Kurikulum 2013 berbasis karakter dan kompetensi boleh
jadi mendasari pengembangan kemampuan-kemampuan lain. Penguasaan ilmu
pengetahuan dan keahlian tertentu dalam suatu pekerjaan, kemampuan memecahkan
masalah dalam kehidupan sehari-hari, serta pengembanganaspek-aspek kepribadian
dapat dilakukan secara optimal berdasarkan standar kompetensi tertentu.
v KEKURANGAN
KURIKULUM 2013:
·
Pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa
memiliki kapasitas yang sama dalam kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah
dilibatkan langsung dalam proses pengembangan kurikulum 2013.
·
Tidak ada keseimbangan antara orientasi proses
pembelajaran dan hasil dalam kurikulum 2013. Keseimbangan sulit dicapai karena
kebijakan ujian nasional (UN) masih diberlakukan.
·
Pengintegrasian mata pelajaran IPA dan IPS dalam mata
pelajaran Bahasa Indonesia untuk jenjang pendidikan dasar tidak tepat, karena
rumpun ilmu pelajaran-pelajaran tersebut berbeda
v
PELAKSANAAN KURIKULUM 2013:
Implementasi kurikulum 2013 diharapkan dapat
mengahasilkan insan yang produktif, kreatif, dan inovatif. Kurikulum 2013 yang
berbasis karakter dan kompetensi lahir sebagai jawaban terhadap berbagai
kritikan terhadap kurikulum 2006, serta sesuai dengan perkembangan kebutuhan
dunia kerja